Etika Berkomunikasi
Oktober 26, 2013Lidah ini lunak tak bertulang, namun apabila salah mengucapkannya akan menjadi boomerang.
Komunikasi dengan siapapun adalah penting, dan dapat meningkatkan keakraban dan saling cinta.
Namun kadang, baik diketahui ataupun tidak, ketika seseorang
berkomunikasi biasanya ada kata-kata yang salah dari perkataannya dan
membuat pendengarnya merasa sakit.
Lidah lebih tajam daripada pedang,
pedang untuk menembus hati masih melalui kulit, sedangkan kata-kata
dapat membuat hati sakit ketika kata-kata itu salah. Berkomunikasi yang
baik kepada siapapun dan dimanapun akan mempengaruhi kehidupan,
perkataan yang baik dapat membuat hati pendengar senang dan merasa
nyaman bila ia didekat orang yang perkataannya selalu menyenangkan.
Berbeda dengan orang yang selalu berkata kasar, sungguh akan memilukan
perasaan dan menyakitkan hati, bahkan akan mengundang kemarahan yang
berujung pada sebuah permusuhan, tentu hal ini sangat disayangkan bila
terjadi. :)
Melihat masalah seperti ini, sudah sepatutnya ada Etika Berkomunikasi, etika itu adalah aturan agar ketika berkomunikasi dengan orang lain ataupun dengan orang tercinta dapat memberikan manfaat. Langsung saja, ada 5 hal etika berkomunikasi secara umum yang perlu diperhatikan. yaitu:
a. Menyapa dengan Santun
Ketika bertemu dengan orang lain yang kita kenal, atau bertemu dengan
orang tercinta, hendaklah sapalah dengan santun, dengan salam dan dengan
senyum. Mendekati dan bersalaman akan lebih membuat rasa persaudaraan
semakin erat. Lalu ketika kita ada diruang tunggu dan disebelah ada
orang yang tidak kita kenal, boleh kok menyapa dan berkenalan, tentunya
dengan santun juga. Menyapa dengan santun itu dapat membuka hati orang
yang tak dikenal agar bisa menerima kita enjadi kawan atau teman atau
yang lain, sedangkan menyapa dengan santun untuk orang yang sudah kita
kenal, dapat memperakrab dan memperkuat tali cinta. :)
b. Menjadi Pendengar yang Baik
Ketika sudah memasuki dalam tahap komunikasi, tentunya kita harus siap
menghadapi cara berkomunikasi mereka. Mungkin ada yang omongnya banyak
atau cerewet, ada yang pendiam dan yang lain-lain. Nah, untuk menghadapi
orang yang banyak omongnya, seperti berkata-kata sampai capek, atau
kata-katanya tidak da satupun tanda koma, atau titik, sehingga terus
menerus, maka jadilah pendengar yang baik walaupun dengan jujur sedikit
tidak menyenangkan. :D Pendengar yang baik bukanlah hanya mendengarkan
saja, melainkan dengan perilaku yang lain, misalkan, sekali-kali tatap
matanya sebagai tanda kita memperhatikan, senyum, dan sekali-kali
menganggukan kepala.
Cara ini adalah agar orang itu senang ketika perkataannya didengarkan,
dan walalupun kita sedikit tak nyaman, jangan pernah dalam hati berkata
yang tidak-tidak, dengarkanlah saja dengan cara seperti itu, pasti ada
manfaatnya dibalik itu semua. Lalu apabila berhadapan dengan orang
pendiam, dan omongnya sedikit, harus dapat memancing agar ada komunikasi
timbal balik, dengan cara bagaimana ......
c. Mengajukan Pertanyaan
Ya, untuk menghadapi orang pendiam dengan cara mengajukan pertanyaan
sederhana, jangan menanyakan namanya dahulu, karena pasti jawabannya
akan singkat, berilah pertanyaan yang kira-kira ia akan menjawab dengan
panjang, tentu kalau kita bisa membuat orang pendiam jadi cerewet itu
sangat menyenangkan. hehehe. :)
Contoh pertanyaan yang akan dijawabnya dengan panjang misalkan, dengan berawalan bagaimana
bla bla bla bla ....? Nah dijamin deh jawabannya akan panjang walaupun
tidak panjang-panjang amat. Dan yang harus diperhatikan, pertanyaan itu
harus sesuai dengan orangnya lah, kalau misalkan orang itu kelihatannya
adalah guru, jangan tanyakan bagaimana cara membuat obat? wah tentu itu
salah. hehehe. :)
d. Jangan Sotoy
Sotoy adalah bahasa gaul anak sekarang yang maknanya bukanlah makanan
seperti soto ayam atau soto yang lainnya, melainkan adalah singkatan
dari sok tau. Nah? ini yang membahayakan dalam hal berkomunikasi, ketika
berkomunikasi dan ada timbal baliknya, jangan merasa sok tau tentang
apa yang dibicarakan orang yang berkomunikasi dengan kita.
Ketika orang bercerita tentang singapura, kita sok tau, wah, aku sudah
pernah kesana bahkan sampai lima kali coba ...? disana tuh ada ini dan
itu pokoknya aku tau semua deh ... :) Hindari hal seperti itu.
5. Memotong Pembicaraan
Memotong pembicaraan adalah hal yang menyakitkan, belum berkata A dengan
sempurna, kita langsung berkata B, belum berbicara dengan tuntas,
kitapun langsung menjawab, hal ini bukanlah etika dalam berkomunikasi.
Nah, demikianlah yang dapat penulis sajikan untuk pembaca yang baik hati tentang Etika Berkomunikasi,
semoga dapat memberikan atau paling tidak mengingatkan kita agar selalu
menjaga etika berkomunikasi dan berkata-kata yang baik. :)
Bagaimana bisa berkomunikasi dengan baik kepada Tuhan apabila kepada
orang lain saja tidak sopan, betul tidak ... ? bila berkomunikasi dengan
Tuhan itu santun, tentunya Tuhan akan mencintai kita, jika sudah cinta,
apa saja dikasih oleh-Nya, seneng kan ...? :) OLEH SEBAB ITU, BICARALAH DENGAN SANTUN, ATAU LEBIH BAIK DIAM JIKA KATA-KATA YANG AKAN KITA UCAPKAN MENYAKITKAN :)
Sekian dari penulis, mohon maaf apabila ada salah kata, terimakasih
0 komentar